Saturday, 4 January 2014

Syair-syair SufI terbaru 2014



Syair-syair Sufi---

Tuhanku…
Sungguh aku bingung dn ketakutan
Karena banyaknya dosa dan kemaksiatan
Bersamaan dengan banyaknya anugerah dan kebaikan-Mu

Telah hilang warna wajahku
Maka dengan wajah yang mana aku harus menemui-Mu
Setelah dosa-dosa membuat wajahku gelap ?

Lidahku terasa kelu karena sering bermaksiat kepada-Mu
Dengan lidah yang mana aku harus menyeru-Mu
Setelah maksiat membuat lidahku bungkam ?
Tapi, bagaimana mungkin aku tidak menyeru-Mu
Padahal Engkau Maha Pemberi Karunia ?

Bagaimana aku bisa bergembira
Padahal aku pendosa ?
Bagaimana aku berduka
Padahal Engkau Pemberi Anugerah ?

Bagaimana aku tidak menyeru-Mu
Padahal aku, aku….
Bagaimana aku tidak menyeru-Mu
Padahal Engkau, Engkau…

Aku malu menyeru-Mu
Karena dosa yang selalu ku ulang-ulang
Tapi bagaimana mungkin seorang hamba tidak menyeru Tuhannya
Kemana pelariannya dan perlindungannya
Jika Engkau mengusirnya…?

……………………..…….ÖÖÖ………………………………
Tuhanku…
Setiapkali aku memersiapkan diriku
Untuk menghadap-Mu
Shalat dan dzikir kepada-Mu
Saat itu  rasa malas menyergapku
Ya Allah…
Setiap aku mendekati kedudukan orang-orang yang bertobat
Ada saja gangguan dan godaan yang menerpaku…

Ya Allah…
Apakah itu berarti Engkau mengusirku dari pintu Rahmat-mu ?
Atau Engkau telah mengusirku dari pengkhidmatan kepada-Mu ?
Apakah karena selama ini aku selalu melanggar perintah-Mu ?
Atau karena Engkau melihat aku
Berada dalam maqam para pendusta yang berpura-pura ?
Lalu Engkau usir aku dari Hadirat-Mu ?

Atau karena Engkau melihat aku
Tidak bersyukur atas nikmat yang Engkau berikan ?
Maka Engkau juga jauhkan aku dari mendekatkan diri kepada-Mu ?
Ayau karena aku selalu meninggalkan majelis orang-orang yang baik
Maka Engkau hinakan aku ?

Atau karena Engkau melihatku termasuk orang-orang yang lalai
Maka Engkau membuatku lepas dari Rahmat-Mu ?
Atau karena aku lebih menyenangi kedudukan orang-orang malas
Sehingga Engkau jadikan aku seperti mereka ?

Ya Allah…
Aku yakin kasih-sayang-Mu lebih besar dari dosa-dosaku
Ampuni aku dan peluklah aku dalam dekapan Rahmat-Mu
Dan tidak pernah Engkau lepaskan lagi…

      ……………………..…….ÖÖÖ………………………………

---Kisah Sufi--- TERBARU 2014



luqman al-hakim dengan gunjingan orang

Dalam satu riwayat diceritakan, pada suatu hari Luqman al-Hakim bersama anaknya bepergian dengan membawa seekor keledai yang kecil. Karena kasihan kepada keledai yang kecil itu, Luqman al-Hakim menaikinya sendirian, sementara anaknya berjalan kaki mengikuti di belakangnya.
Di perjalanan bertemulah mereka dengan beberapa orang. Melihat tingkah-laku Luqman al-Hakim, sebagian orang tersebut berkata. “Orang tua tidak tahu belas kasihan, dirinya naik keledai tapi anaknya disuruh berjalan kaki.” Mendengar gunjingan itu, Luqman al-Hakim segera turun dari keledainya dan menyuruh anaknya naik sementara dirinya berjalan kaki di belakangnya. Di perjalanan bertemu dengan dua orang yang salah-satunya berkata kepada temannya, “Dasar anak kurang ajar, orang tuanya berjalan kaki, sedangkan dirinya enak-enakan di atas keledai.”
Mendengar hal tersebut, Luqman al-Hakim segera naik  ke atas keledai duduk di belakang anaknya. Bertemulah dengan beberapa orang yang kembali menggunjingnya, “Orang tua dan anaknya sama-sama tidak mengenal belas kasihan kepada hewan, masak keledai yang kecil itu dinaiki oleh dua orang, bukankah itu menyiksa keledai itu ?.”
Oleh karena tidak suka mendengar perkataan orang, maka Luqman al-Hakim dan anaknya turun dan menuntun keledai tersebut bersama-sama. Terdengar lagi gunjingan orang di jalan yang dilaluinya, “Orang tua dan anaknya sama-sama bodoh, masak membawa keledai tidak dinaiki ?.” Mendengar gunjingan itu, Luqman al-Hakim dan anaknya kemudian memikul keledainya. Ketika bertemu dengan orang-orang, kembali jadi pergunjingan, “Orang tua dan anaknya sama-sama gila, masak keledainya dipikul ?.”
Sesampai di rumahnya, Luqman al-Hakim memberikan nasehat kepada anaknya, tentang sikap manusia dan gunjingannya. “Sesungguhnya setiap orang tidak terlepas dari percakapan dan gunjingan manusia lainnya. Maka orang yang berakal tidak mengambil pertimbangan, melainkan kepada Allah Swt. Barang siapa mengenal kebenaran yang hakiki, itulah yang menjadi pertimbangannya dalam segala hal.”
Kemudian Luqman al-Hakim berpesan kepada anaknya, “Wahai anakku, carilah rezeki yang halal, supaya kamu tidak menjadi fakir-miskin. Sesungguhnya orang fakir-miskin itu akan tertimpa tiga perkara, yaitu tipis keyakinannya (iman dan agamanya), lemah akalnya (mudah tertipu dan diperdaya orang), dan hilang kemuliaan hatinya (kepribadiannya). Yang lebih celaka lagi dari tiga perkara itu adalah orang-orang yang suka meremehkan dan merendahkan orang-orang yang fakir-miskin.
Kiriman dari Ahmad Syamsuri
(Sidodadi Kulon Gg I No 9 Surabaya)
Karena sibuk mengurusi hatinya
Suatu ketika, seorang sufi yang masih muda datang dengan maksud ingin berguru kepada Abu Said Abul Khair, seorang Guru Sufi yang terkenal karena ‘karamah’nya dan gemar mengajar tasawuf di pengajian-pengajian. Rumah guru sufi itu terletak di tengah-tengah padang pasir. Ketika sufi muda itu tiba di rumahnya, Abul Khair sedang memimpin Majelis pengajian, di tengah-tengah para muridnya.
Sewaktu Abul Khair membaca surah Al-Fatihah. Ia tiba pada ayat: ghairil maghdubi ‘alaihim, wa ladh dhallin. Sufi muda itu berpikir, “Bagaimana mungkin ia seorang Guru sufi terkenal?, makhraj bacaan Al Fatehahnya tidak bagus begitu. Bagaimana mungkin aku bisa berguru kepadanya. Bacaan Quran-nya saja tidak bagus.” Sufi muda itu mengurungkan niatnya untuk belajar kepada Abul Khair.
Sufi muda itu merasa salah memilih calon Guru baginya, dan ia memutuskan pulang dan mencari Guru lain yang makhraj bacaannya lebih bagus darinya. Begitu sufi muda itu keluar, ia langsung dihadang oleh seekor Singa Padang Pasir yang buas. Ia kemudian mundur menghindari Singa itu, akan tetapi di belakangnya ada seekor Singa Padang Pasir lain yang menghalanginya. Lelaki muda itu menjerit keras meminta tolong karena ketakutan.
Mendengar teriakannya, Abul Khair segera turun keluar meninggalkan majelisnya. Ia menatap kedua ekor Singa yang kelaparan itu dan menegur mereka, “Wahai Singa, Bukankah sudah kubilang padamu, jangan pernah kalian menganggu para tamuku!”
Kedua singa itu lalu bersimpuh di hadapan Abul Khair. Sang sufi lalu mengelus telinga keduanya dan menyuruhnya pergi. Lelaki muda itu keheranan, “Bagaimana mungkin Anda dapat menaklukkan Singa-Singa yang begitu liar?”
Abul Khair menjawab, “Anak muda, selama ini aku sibuk memperhatikan urusan hatiku. Bertahun-tahun aku berusaha menata hatiku, hingga aku tidak sempat berprasangka buruk kepada orang lain. Untuk kesibukanku menaklukkan hati ini, Allah SWT menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku. Semua binatang buas di sini termasuk Singa-Singa Padang pasir yang buas tadi semua tunduk kepadaku. Sekarang apakah kamu menyadari kekuranganmu wahai anak muda ?
“Tidak , wahai Guru”, jawab anak muda itu.
“Selama ini kamu sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah hingga nyaris lupa memperhatikan hatimu, karena itu kamu takut kepada seluruh alam semesta, dan ketakutan hanya karena Singa-Singa itu.”
…………………………………………………………………………………………..
Sahabatku…
Betapa indah sekiranya kita memiliki hati atau qolbu yang senantiasa tertata terpelihara terawat dengan sebaik-baiknya. Kita akan senantiasa merasakan lapang tenteram tenang sejuk dan indah hidup di dunia ini. Semua ini akan tercermin dalam tiap gerak-gerik perilaku tutur kata, senyum tatapan mata riak air muka bahkan diam sekalipun.
Orang yang hatinya telah tertata dengan baik, ia tidak pernah merasa resah gelisah tidak pernah gundah gulana. Kemana pun pergi dan dimana pun berada ia senantiasa mampu mengendalikan hatinya. Diri senantiasa berada dalam kondisi damai dan mendamaikan tenang dan menenangkan tenteram dan menenteramkan. Ia yakin dengan keyakinan yang amat sangat bahwa hanya dengan mengingat dan merindukan Allah, hanya dengan menyebut-nyebut nama-NYA setiap saat, meyakini dan mengamalkan ayat-ayat-Nya maka hati menjadi tenteram. Tantangan seberat apapun diterima dengan ikhlas.
Sebaliknya orang yang hati-nya tidak tertata akan mendapatkan kerugian yang berlipat-lipat. Tidak saja hati yang selalu gelisah namun juga orang lain yang melihat pun tidak akan menaruh hormat sedikit pun jua. Ia akan dicibir dan dilecehkan orang. Ia akan tidak disukai sehingga sangat mungkin akan tersisih dari pergaulan. Terlepas siapa orangnya. Adakah ia orang berilmu berharta banyak pejabat atau siapapun; kalau hatiya tidak ditata dengan baik alias berhati busuk niscaya akan mendapat celaan dari masyarakat yang mengenalnya. Derajatnya-pun mungkin akan sama atau bahkan lebih hina dari pada apa yang dikeluarkan dari perutnya.
Orang yang hatinya tertata rapi, adalah orang yang telah berhasil merintis jalan ke arah kebaikan. Ia tidak akan tergoyahkan dengan aneka rayuan dunia yang tampak menggiurkan. Ia akan melangkah pada jalan yang lurus. Dari titik tahapan kebaikan itu hingga mencapai titik puncak. Sementara itu ia akan berusaha sekuat tenga untuk memelihara diri dari sikap sombong (ujub), riya’, hasad (dengki) dan perilaku rendah lainnya.
Sungguh betapa beruntung orang yang senantiasa bersungguh-sungguh menata hati karena berarti ia telah menabung aneka kebaikan yang akan segera dipetik hasil dunia akhirat. Sebaliknya, alangkah malangnya orang yang tidak pernah menata hatinya, selama hidup lalai dan membiarkan hatinya kusut masai dan kotor. Karena jangankan akhirat kelak bahkan ketika hidup di dunia pun nyaris tidak akan pernah merasakan nikmat hidup tenteram nyaman dan lapang.
Sahabatku…
Seperti Sufi Besar, Abu Said Abul Khair dalam kisah di atas yang dapat menaklukkan alam semesta akibat ia sibuk menata hatinya, bahkan sepasang Singa padang pasir yang sangat buas dan kelaparan bisa dengan mudah ia tundukkan. Sebaliknya sufi muda yang hendak berguru, akibat sibuk hanya mengurus makhraj bacaan Al Qur’an orang lain, dan berprasangka buruk pada calon Gurunya, maka ia dihantui ketakutan akan alam semesta
Jadi, marilah kita senantiasa melatih diri untuk menyingkirkan segala penyebab yang potensial bisa menimbulkan ketidak-nyamanan yang ada di dalam hati ini. Karena dengan hati yang nyaman, indah dan lapang, niscaya akan membuat hidup ini terasa damai. Dengan hati yang tertata, maka meskipun berseliweran aneka masalah hidup yang dihadapi, namun sama sekali tidak akan pernah membuat ia terjebak dalam kesulitan, karena ia selalu mampu menemukan jalan keluar terbaik dengan izin Allah. Insya Allah!
Sebagai penutup, saya kutipkan Hadits Rasulullah Saw, dimana beliau bersabda :”Innallaha la yanzhuru ila ajsamikum wa la ila shuwarikum walakin yanzhuru ila qulubikum”. Artinya, ”Sesungguhnya Allah tidak melihat fisik kalian dan rupa kalian akan tetapi Allah melihat hati kalian” (HR. Muslim)
Semoga Allah Swt menjadikan kita dan semua dan anak-anak  keturunan kita menjadi orang yang tertata hatinya, berhati bersih (qalbun salim) dan terhindar dari penyakit-penyakit hati. Amiin Yaa Rabbal Alamiin.
(Ahmad Wafiq PP Syaichona Moh. Cholil Bangkalan)
-------Aneh Tapi Benar--------

Ingin mimipi bertemu rasulullah saw
Dengan wajah muram seorang murid bersimpuh di hadapan syekhnya. Sang syekh dengan wajah dan suara berwibawa bertanya kepadanya, “Apakah gerangan yang membuatmu risau ?”. Si murid menjawab dengan penuh tawadhu’, “Wahai syekh, sudah lama aku ingin melihat wajah Nabiku SAW walau hanya lewat mimpi. Namun sampai sekarang keinginanku belum juga terkabul,” jelas si murid. “Ooo…rupanya itu yang kau inginkan, tunggu sebentar.”
Sang syekh mengeluarkan pena, kemudian menuliskan sesuatu untuk muridnya. “Ini bacalah setiap hari 1000 kali, insya Allah kau akan bertemu dengan Nabi Muhammad SAW.” Dengan wajah berseri pulanglah si murid membawa tulisan itu. Namun, setelah beberapa minggu kembalilah si murid ke rumah syekhnya, memberitahukan bahwa bacaan yang diberikannya tidak menghasilkan apa-apa. Sang syekh kemudian memberikan wiridan lain, namun beberapa minggu kemudian muridnya kembeli dengan lesu, memberitahukan bahwa wiridan itu pun masih belum menghasilkan apa-apa.
Setelah diam beberapa saat, berkatalah sang syekh, “Nanti malam datanglah engkau kemari, aku mengundangmu untuk makan malam.” Si murid mengangguk, kemudian pulang ke rumahnya. Setelah tiba waktunya, pergilah ia ke rumah syeknya untuk memenuhi undangannya. Ia merasa heran melihat syekhnya hanya menghidangkan ikan asin saja. “Makanlah semua ikan itu, jangan sisakan sedikit pun !” kata sang syekh kepada muridnya.
Karena tergolong murid yang taat, maka ia habiskan seluruh ikan asin yang ada di hadapannya. Selesai makan ia pun merasa kehausan karena memang ikan asin membuat orang yang memakannya menjadi mudah kehausan. Ia segera meraih segelas air air dingin yang ada di hadapannya. “Letakkan kembali gelas itu !” perintah sang syekh. “Kau tidak boleh minum air itu hingga esok pagi, dan malam ini kau tidur di rumahku.”
Dengan penuh rasa heran diturutinya perintah sang syekh. Malam itu ia sulit untuk bisa tidur. Tenggorokannya serasa tercekik karena kehausan. Ia membolak-balikkan badannya, hingga akhirnya tertidur karena kelelahan. Apa yang terjadi ? Malam itu ia bermimpi syekhnya menyodorkan segelas air dingin. Setelah minum, ia terjaga dari tidurnya. Mimpi itu sangat nyata, seakan benar-benar terjadi padanya.
“Apa yang kau impikan ?” Tanya sang syekh yang beridiri tidak jauh darinya. “Wahai syekh, aku tidak memimpikan Rasulullah SAW, tapi aku mimpi minum air.” Tersenyumlah sang syekh mendengar jawaban muridnya itu. Kemudian dengan bijaksana sang syekh berkata, “ Jika cinta dan rindumu kepada Rasulullah SAW sama seperti pada air dingin itu niscaya engkau akan memimpikannya.”
Menangislah si murid. Ia baru sadar bahwa ternyata dalam hatinya belum cukup ada rasa cinta kepada Rasulullah SAW. Ia masih lebih mencintai dunia daripada Nabi. Ia masih banyak meninggalkan sunnahnya. Ia masih belum meneladani akhlaknya. Dia masih lebih mencintai air…”



---Kisah Sufi---
teka-teki imam al-ghazali
Suatu ketika Imam Al-Ghazali berkumpul dengan murid-muridnya dan kemudian beliau memberikan teka-teki :
Imam Ghazali : “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?”
Murid 1 : Orang tua
Murid 2 : Guru
Murid 3 : Teman
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita ialah MATI. Sebab itu adalah janji Allah SWT bahwa setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati (Surah Ali-Imran : 185).
Imam Ghazali : “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”
Murid 1 : Negeri Cina
Murid 2 : Bulan
Murid 3 : Matahari
Iman Ghazali : Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA LALU. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.

Imam Ghazali : “Apa yang paling besar di dunia ini?”
Murid 1 : Gunung
Murid 2 : Matahari
Murid 3 : BumiI
Imam Ghazali : Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf : 179).“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah SWT) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah SWT), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah SWT). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.
Imam Ghazali : “Apa yang paling berat di dunia?”
Murid 1 : Baja
Murid 2 : Besi
Murid 3 : Gajah
Imam Ghazali : Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72).
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat[*] kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh”.
Yang dimaksud dengan amanat di sini ialah tugas-tugas keagamaan. Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka karena gagal memegang amanah.

UNTAIAN MUTIARA HIKMAH SAYYIDIS SYEKH ABIL HASAN AS-SYADZILI



---UNTAIAN MUTIARA HIKMAH---
SAYYIDIS SYEKH ABIL HASAN AS-SYADZILI

1.    ”Apabila ilmu kasyaf kamu (ilmu yang keluar dari terbukanya hati), bertentangan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits, maka kamu harus berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits, dan tinggalkan ilmu kasyaf itu…! Katakan pada hatimu, bahwa Alloh telah menjamin untuk menjaga kita dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Alloh tidak menjamin dan bertanggung jawab menjaga kita dalam Ilmu Kasyaf, Ilmu Ilham (bisikan), Ilmu Musyahadah (melihat barang ghaib). Karena para Ulama’ telah sepakat, bahwa Ilmu Kasyaf, Ilham dan  Musyahadah itu tidak boleh diamalkan sebelum ditinjau dan disesuaikan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits.”
2.    ”Apabila ada orang yang merintangi jalanmu menuju Alloh, maka kamu harus teguh pendirian. Karena Alloh berfirman,”Wahai orang-orang beriman, jika kalian bertemu dengan satu kaum, maka teguhkan pendirian kalian dan sebutlah nama Alloh yang banyak, supaya kalian menjadi orang-orang yang beruntung.”
3.    ”Setiap ilmu yang terlanjur merubah kehendak hatimu, dan kamu cenderung kepadanya dan merasa enak dengan ilmu itu, maka segera buanglah, sekalipun ilmu itu benar. Kemudian ambillah Ilmu Alloh yang telah diturunkan kepada Utusan-Nya, patuhlah kepada Utusan-Nya, Khulafaurrosyidun, para Shohabat, Tabi’in dan Imam-Imam yang ahli petunjuk, yang bebas dari pengaruh hawa nafsu. Maka kamu akan selamat dari keraguan, prasangka buruk, dan hal-hal yang membuat dusta yang menyesatkan dari petunjuk dan hakikat petunjuk.”

4.    ”Sebagian dari perkara yang paling bisa menjaga dari datangnya bala’ untuk melakukan maksiat, adalah membaca Istighfar. Karena Alloh berfirman,”Alloh tidak akan menurunkan adzab kepada penduduk, selama mereka masih mau beristighfar.”…
5.    ”Saya bertemu dengan Rosululloh SAW. Kemudian saya bertanya,”Ya Rosulalloh, apa hakikatnya المتابعة (ikut). Rosululloh menjawab “ Selalu melihat kepadaالمتبوع  (yang diikuti), disaat apa saja, ketika bersama siapa saja, dan dalam keadaan apa saja.”
6.    Kalau engkau ingin selalu jujur dalam setiap perkataan, maka perbanyaklah membaca suroh Al-Qodr
7.    Kalau ingin ikhlas dalam segala hal, perbanyaklah membaca Suroh Al-Ikhlas
8.    Kalau ingin dipermudah mendapat rizqi, perbanyaklah membaca Suroh Al-Falaq
9.    Kalau ingin selamat, perbanyaklah membaca Suroh An-Nas
       Seorang Wali Quthub Ar-Robbany, Sayyidi Abd. Wahhab As-Sya’roni berkata “Menurut para Ulama’, paling sedikitnya kata-kata perbanyaklah bacaan, adalah 70 kali sampai 700 kali setiap hari.”

10.    ”Paling shidiqnya bacaan di sisi Alloh, adalah  لااله الا الله   dalam keadaan hati yang bersih.”
11.    ”Kalau engkau ingin punya hati yang bersih dan tidak akan menemukan kesusahan, serta ingin tidak selalu melakukan dosa, maka perbanyaklah membaca :
 سبحان الله وبحمده سبحام الله العظيم لااله الا هو اللهم ثبت علمها في قلبي واغفر لي ذنبي                             
12.    ”Janganlah sekali-kali engkau memilih sesuatu berdasarkan nafsu, tapi pilihlah yang tidak didasari nafsu.”
13.    “Para Wali itu tidak butuh pada sesuatu selain Alloh, dan selalu bersama Alloh tanpa pemikiran dan pilihan.”
14.    “Ada suatu perkara yang bisa merusak beberapa amal baik, tanpa disadari oleh sebagian manusia, yaitu tidak menerima kepada qodho’ atau ketentuan Alloh.” Kemudian ada dua perkara yang tidak berbahaya oleh banyaknya kelakuan jelek, yaitu Ridho pada Takdir Alloh dan memaafkan pada hamba Alloh.”
15.    “Seorang hamba tidak akan selamat dari Neraka, kecuali ia mampu mencegah dirinya dari melakukan maksiat kepada Alloh. Ia mampu menghiasi dirinya dengan menjaga amanah Alloh, mampu membuka hatinya untuk melihat Alloh, dan ia mampu membuka lisan dan batinnya untuk munajat kepada Alloh. Ia juga bisa menyingkap tabir antara dirinya dengan sifat-sifat Alloh, dan bisa memperlihatkan ruh-ruh Kalimat Alloh di hadapan-Nya.”
16.    ”Apabila lisanmu terasa berat untuk berdzikir, engkau selalu berbuat salah dalam ucapanmu, anggota badan dibiarkan didalam syahwat, dan pintu pemikiran selalu tertutup untuk melakukan kebaikan, maka ketahuilah…! Sifat yang demikian itu menunjukkan besarnya dosa-dosa kamu, atau karena masih ada sifat munafiq di dalam hatimu. Kalau sudah demikian, maka tidak ada jalan lain bagi kamu, kecuali segera bertaubat, berbuat baik, minta perlindungan Alloh, dan harus ikhlas dalam menjalankan Agama Alloh. Ingatlah firman Alloh “Kecuali orang-orang yang mau bertaubat, berbuat baik, minta perlindungan Alloh, dan selalu ikhlas dalam menjalankan Agama Alloh. Maka orang-orang tersebut akan bersama orang-orang Mukmin.” Alloh tidak mengatakan bahwa orang tersebut termasuk orang mukmin, maka renungkanlah Firman Alloh ini, jika engkau mengerti.”

17.    ”Jika engkau sedang duduk di depan Ulama’, maka janganlah engkau berbicara dengan mereka kecuali hal-hal yang berkaitan dengan ilmu yang di nuqil dari Nash Al-Qur’an dan Hadits dari riwayat yang shohih. Baik ilmu itu bisa memberi faedah kepada mereka atau engkau bisa mengambil faedah dari mereka. Hal itu merupakan keuntungan yang sangat besar bagi engkau dari mereka. Jika engkau duduk dengan orang-orang ahli ibadah dan orang-orang zuhud, maka duduklah engkau bersama mereka dengan menampakkan sikap zuhud dan ibadah. Ikutlah terhadap apa yang dianggap baik oleh mereka, dan memberi kemudahan apa yang dianggap sulit oleh mereka. Jika engkau duduk dengan orang-orang Shiddiqin, maka pisahkan ilmu-ilmu yang telah engkau ketahui, agar engkau memperoleh ilmu yang tersimpan dari mereka.”

18.    ”Diantara paling musyaqqatnya manusia, adalah orang yang senang apabila orang lain tunduk melakukan apa yang diinginkannya, sedangkan dirinya tidak bisa melakukan sebagian yang diinginkan oleh mereka. Tuntutlah dirimu untuk bisa memuliakan orang lain, jangan engkau menuntut orang lain untuk memuliakan dirimu. Jangan memaksa apapun kepada orang lain, tapi paksalah dirimu sendiri.”
19.    ”Sungguh aku putus asa untuk bisa memanfaatkan diriku untuk diriku sendiri, maka bagaimana aku tidak putus asa untuk memanfaatkan orang lain untuk diriku ?. Aku selalu berharap baik kepada Alloh untuk orang lain, maka bagaimana aku tidak berharap baik kepada Alloh untuk diriku sendiri ?”.
20.    ”Janganlah engkau condong kepada ilmu dan kekuatan, tapi condonglah hanya kepada Alloh. Takutlah engkau…!!! Jangan sampai menyebarkan ilmu dengan tujuan supaya orang lain tunduk kepadamu. Tapi sebarkan ilmumu dengan tujuan supaya ilmu itu bisa menjadi penyebab kamu tunduk kepada Alloh.”
    

21.    Al-Imam Abul Hasan Ali Asy-Syadzili adalah seorang yang sangat Tawadhu’ (rendah hati). Diantaranya adalah beliau tidak pernah berbicara di depan orang banyak kecuali diminta. Kalau sudah diminta, beliau berbicara dengan kata-kata yang lembut yang dapat diterima oleh kalangan orang besar dan orang kecil. Hal itu dikarenakan sifat iba dan bijaksana yang dimiliki beliau, juga karena beliau menguasai ilmunya ulama’, ilmu siyasah pemerintahan dan hikmahnya ahli hukum.        Diceritakan, suatu ketika ada pertemuan para wali dan para ulama’ di Balai pertemuan kota Manshuroh dekat kota Tsughroh Dimyath. Hadir dalam pertemuan tersebut Syekh Izzuddin Bin Abd. Salam, Syekh Makinuddin Al-Asmar, Syekh Taqiyuddin Bin Daqiqil ‘Id, dan lain-lain. Mereka semua sedang membahas Risalah Al-Qusyairi. Ketika satu persatu sudah menyampaikan pendapatnya, tiba-tiba Syekh Abil Hasan As-Syadzili hadir ke tempat itu. Setelah beliau duduk, Para Wali dan Para Ulama’ berkata,”Kami ingin mendengarkan pendapat panjenengan tentang kandungan makna dalam risalah ini.” Kanjeng Syaikh berkata,” Kalian semua merupakan Para Syekh Guru-Guru besar Islam telah menyampaikan pendapat masing-masing, jadi tidak ada lagi tempat bagi saya untuk memberikan pendapat.” Mereka berkata,”Tidak wahai Syekh, Kami ingin mendengarkan pendapat panjenengan.” Selanjutnya Kanjeng Syekh memanjatkan puji kepada Alloh, kemudian memberikan pendapat dengan jelas dan gamblang. Setelah Kanjeng Syaikh selesai memberikan pendapat, Syekh Izzuddin Bin Abd. Salam yang terkenal sebagai rajanya para Ulama’ berteriak dari dalam tenda,”Ayo kesini semua untuk bersama-sama mendengarkan pendapat Syekh Abu Hasan, yang hampir dipastikan murni dari sisi Alloh.” Padahal Syekh Izzuddin sebelumnya mengingkari dengan berkata kepada masyrakat,”Apakah masih ada Thoriqoh selain Al-Qur’an dan Al-Hadits,?. Tetapi setelah berkumpul dengan Syekh Abil Hasan As-Syadzili, beliau menyatakan salut dan kagum dengan berkata,”Diantara pertanda agung yang membuktikan adanya kelompok Tashowwuf adalah bila mereka telah mampu menduduki dasar-dasar agama yang besar. Yaitu bisa menguasai karomah dan khoriqul adah (keanehan-keanehan). Seorang ahli Fiqh tidak menguasai apa-apa dari karomah dan khoriqul adah, kecuali hanya bisa menjalankan apa yang dijalankan oleh masyarakat seperti hanya tampak dari dhohirnya.”      Syekh Izzuddin setelah berkumpul dengan Syekh Abil Hasan As-Syadzili, dan telah merasakan thoriqoh yang telah dirasakan oleh masyarakat dan bisa memotong besi dengan lembaran kertas, maka beliau memuji dengan sepenuhnya pujian.
22.    ”Makanlah kalian dari makanan yang enak dan lezat, minumlah minuman yang bagus dan segar, tidurlah di kasur yang paling empuk, dan berpakaianlah dengan pakaian yang paling halus. Kalau salah satu diantara kalian melakukan hal itu kemudian berkata,”Alhamdulillah”, maka anggota tubuh kalian telah mensyukuri nikmat Alloh. Lain halnya jika salah satu dari kalian makan roti kasar dengan lalapan garam, memakai pakaian lusuh, tidur di tanah dan minum air hangat yang dipanaskan matahari, kemudian mengucapkan Alhamdulillah, padahal hal itu didorong oleh perasaan terpaksa dan murka kepada taqdir Alloh. Andaikata salah satu diantara kalian melihat dengan mata hati, maka pasti akan mengerti bahwa keterpaksaan dan kemungkaran itu akan kembali kepada perbuatan dosa bagi orang-orang yang menbuat enak-enakan di dunia dengan yakin. Padahal sesungguhnya orang yang enak-enakan di dunia itu melakukan sesuatu yang diperbolehkan oleh Alloh, tapi orang yang bersyukur dengan terpaksa dan murka itu melakukan sesuatu yang diharomkan oleh Alloh.” Keterangan ini menjadi salah satu bukti, bahwa Kanjeng Syekh itu termasuk golongan orang ahli meneliti tingkah laku hati dan termasuk ahli bersyukur.
23.    “Ikatlah nafsumu, dan kalahkanlah dengan sholat. Jika sholatmu bisa mencegah dari sesuatu yang disukai nafsu, maka engkau termasuk orang yang beruntung. Dan jika sholatmu tidak mencegahmu dari nafsu, maka hendaklah engkau menangisi keadaan dirimu. Apabila engkau terpaksa menyeret kuat kakimu untuk pergi bersholat, hendaklah engkau ingat, adakah seorang kekasih itu tiada ingin berjumpa dengan kekasihnya ?”.
24.    “Aku bertanya kepada guruku berkenaan dengan wirid orang-orang yang telah benar-benar mencapai Alloh. Guruku berkata,”Menggugurkan hawa nafsu dan mencintai Tuhannya. Dan dengan kecintaan itu, ia tercegah dari mencintai yang lain selain Alloh.”
25.    “Siapa yang ingin bersahabat dengan Alloh, mka hendaklah ia berangkat meninggalkan segala kesenangan diri. Tidak akan sampai si hamba kepada Alloh, jika masih ada pada dirinya syahwat. Dan tidak juga, jika masih ada pada dirinya segala nafsu keinginan.”
26.    “Barang siapa yang bertambah ilmu dan amlnya, tidak menyebabkannya bertambah iftiqor (memerlukan) Alloh, maka dia telah masuk ke dalam golongan orang-orang yang binasa.”
27.    “Kembalilah engkau dan janganlah menentang Tuhanmu, maka engkau akan menjadi seorang Muwahhid (Ahli Tauhid). Beramallah engkau dengan menetapi rukun-rukun syari’at, maka engkau akan menjadi seorang Sunni (Seorang pengikut Rosululloh). Himpunlah dua perkara tersebut, maka engkau akan menjadi seorang ahli hakikat.”
28.    “Jika engkau ingin memperbaiki aib dirimu, maka janganlah sekali-kali kamu mengintai aib orang lain. Karena mengintai aib orang lain termasuk ke dalam cabang-cabang kemunafikan, sebagaiman husnudz dzon itu termasuk ke dalam cabang-cabang keimanan.”
29.    “Bagi orang Shufi harus mempunyai empat karakter : Pertama, berakhlak dengan akhlak Alloh (Merespons Asma’, Sifat dan Af’al Alloh dalam kehambaannya). Kedua, senantiasa berselaras dengan perintah-perintah Alloh. Ketiga, tidak mengandalkan atau menuruti hawa nafsu, karena malu kepada Alloh. Keempat, menepati hamparan jiwa dalam kefanaan yang benar ketika bersama Alloh.”
30.    “Manakala cahaya orang beriman yang suka bermaksiat dibuka, pasti akan memenuhi bekasnya di langit dan di bumi. Lalu bagaiman menurut anda hebatnya cahaya orang maukmin yang thaat ?”
31.    “Hormatilah sesama kaum mukmin, walaupun mereka sering maksiat penuh dosa. Tegakkan aturan-aturan kepada mereka, dan hampiri mereka sebagai tanda kasih-sayang, jangan sampai anda merasa muak dengan mereka.”
32.    “Jangan mengikuti jejak orang yang sangat hati-hati terhadap apa yang diraih oleh tangan orang beriman, sementara dia sangat tidak hati-hati terhadap apa yang diberikan oleh tangan kaum musyrikin. Sebab sudah diketahui, bagaimana batu jadi hitam (Hajar Aswad) karena tangan mereka.” Maksudnya, jangan mengikuti jejak orang yang belum jelas kebenaran amaliyahnya, wira’inya dan ketajaman mata hatinya.

Charly setia band nyantri di pp syaichona cholil

https://youtu.be/2ELP8ewuNHc https://youtu.be/2ELP8ewuNHc